25 Januari 2021 3:16 pm

Hiasi Harimu dengan Akhlak Ihsan

Hiasi Harimu dengan Akhlak Ihsan
Oleh Ustadz. H. Ahmad Yani, Lc. MA

Kisah nyata disebutkan dalam dua kitab kontemporer oleh Ulama dan penulis produktif yang masyhur Syaikh Yusuf Qaradhawi dan da’i berpengaruh Ustadz Amr Khalid yaitu:

Seorang Barat masuk Islam karena takjub dengan ajarannya yang sangat luar biasa. Beliau mengenal Islam lewat Al-Qur’an dan buku-buku keislaman yang dibacanya. Namun, setelah memeluk Islam, ia merasa aneh karena melihat kondisi Umat Islam yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Saat berhaji, ia melihat banyak pelanggaran perilaku kaum Muslimin. Maka ia bergumam dalam hati: bukankah Allah melarang perkataan dan perbuatan kotor saat melakukan ibadah haji?!” Ia melanjutkan: Alhamdulillah, Allah telah memberiku hidayah kepada Islam sebelum aku mengetahui kondisi Muslimin yang sebenarnya”.

Makna ihsan secara umum ada dua maksud:
1. Berbuat baik
2. Berbuat dengan baik (terbaik/sempurna). Arti ini mengharuskan seseorang untuk berbuat baik dengan (cara) baik.
Ihsan (berbuat baik dengan cara yang baik (terbaik)) merupakan ajaran islam. Ihsan dalam banyak hal. Bekerja dilakukan secara tuntas, rapih, professional, dsb. Ihsan kepada orang tua, kepada tetangga, dsb.

Jika Rasulullah memerintahkan kita untuk ihsan saat menyembelih hewan, apatah lagi pada hal-hal penting lainnya.
Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan pada segala sesuatu… maka jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu, dan buatlah senang hewan sembelihanmu”. (HR. Muslim).

Ihsan dalam Beribadah

Ihsan merupakan akhlak dalam beribadah. Ihsan menjadikan ibadah lebih tinggi nilainya.
Ibadah sholat sekedar memenuhi syarat dan rukunnya saja cukup. Sah.

Namun, shalat yang baik diiringi dengan akhlak ihsan. “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika tidak maka Allah sedang melihatmu”. (HR. Muslim).

Shalat seperti apa yang tinggi nilainya? Yaitu orang-orang yang khusyu’ sholatnya. Berupaya khusyu’. Tanpa khusyu’ bisa sah, tapi dengan khusyu’, shalat menjadi lebih tinggi nilainya.

Berpuasa dengan memenuhi rukun dan syaratnya menjadi sah. Namun, ada yang membuatnya bernilai lebih tinggi, yaitu ihsan dalam berpuasa.

Allah SWT sangat menyayangi dan mencintai muslim yang berbuat ihsan:

Dan Allah mencintai orang yang berbuat ihsan (kebaikan) (Ali Imran: 134).

Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat ihsan (kebaikan). (Al-A’raf: 56).

Menghiasi Hari dengan Ihsan

1. Kepada Orang Tua
Seorang meminta izin kepada Rasulullah untuk berbaiat melakukan hijrah dan jihad (berperang). Maka Rasulullah bertanya padanya: “Adakah salah seorang dari kedua orangtuamu hidup? Fulan tersebut menjawab: ya, bahkan keduanya wahai Rasulullah”.

Apakah engkau inginkan pahala?” tentu wahai Rasulullah
Rasul bersabda: “pulanglah kepada kedua orang tuamu, berbuatlah ihsan kepada keduanya” (HR. Muslim, no. 6454).

2. Kepada Anak Perempuan
"Tidak ada seorang laki-laki yang bertemu dua anak perempuan atau dua saudara perempuannya, lantas ia berbuat baik kepada mereka selama membersamainya, kecuali keduanya daapt menjadi sebab yang memasukkannya ke Surga” (HR. Ibnu Majah, no. 3670).

3. Saat Berbicara Terhadap Sesama
Allah SWT berfirman:
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. (Al-Isra’: 53).

Isyarat kecintaan Allah pada ayat ini adalah kata “hamba-hamba-Ku”. Sebagaimana nama yang paling dicintai adalah nama yang dinisbatkan kepadaNya, seperti Abdullah (hamba Allah). Maka, penisbatan kata hamba kepada-Ku (Allah) mengisyaratkan cinta Allah kepada hamba-hambaNya tersebut. Seruan yang sarat dengan kasih sayang Allah dan pemuliaan terhadap hamba.

Apa pesan dari seruan mulia ini? “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”. Berkata baik dengan cara yang baik. Karena berkata dengan buruk dapat menjadi pintu masuk syaitan untuk memunculkan perselisihan di tengah manusia.

4. Dalam Bekerja
Dalam beramal, bekerja dan berkarya, Islam agama yang menganjurkan untuk ihsan. Nabi Yusuf digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang hafizhun ‘alim (amanah dan kapabel) (QS. Yusuf: 55). Nabi Musa juga disifati dengan qowiyyun amin (kuat dan terpercaya/amanah). (QS. Al-Qasash: 26). Intinya secara profesional dan amanah.
“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan dalam segala hal..”. (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Wallahu a’lam.

Blog Post Lainnya
Kontak Kami
0813 1575 9908
info@zakatbaik.org
Perum Vila Rizki Ilhami 2 Jl. Raihan Boulevard Ruko RD 9 Sawangan, Depok, Jawa Barat
Ikuti kami
@2021 Zakat Baik Inc.