21 Oktober 2020 1:03 pm

Rasa Takut yang Meredam Gejolak Syahwat

Rasa Takut yang Meredam Gejolak Syahwat
Allah SWT berfirman:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ

dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (QS. Ar-rahman (55): 46).

🌲🌲 Apa penjelasan dua surga tersebut?
Mari simak dalam ayat-ayat lanjutannya berikut:

kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan. (QS. Ar-rahman (55): 48).
di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar. (QS. Ar-rahman (55): 50).
di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan. (QS. Ar-rahman (52).
mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (QS. Ar-rahman (54).
di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. (QS. Ar-rahman (56).
seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan. (QS. Ar-rahman (58).

🤲 Subhaanallaah.. Karuniakan kepada kami ya Rabb..

👉 Kemudian, siapa yang dimaksud dalam ayat tersebut?
🗒️ Imam Mujahid dalam kitab Dzammul Hawaa menjelaskan siapa yang dimaksud dalam ayat ini, yaitu: orang-orang yang saat ingin melakukan maksiat, ia mengingat Allah SWT, ia takut dengan keberadaan Allah SWT atas dirinya, hingga ia menghentikan keinginannya tersebut.

Gejolak syahwat yang mendorong seseorang untuk melakukan maksiat dapat diredam dengan rasa takut kepada Allah SWT. Seperti contoh dorongan syahwat untuk melihat kepada yang diharamkan, dapat diredam dengan takut kepada Allah. Rasa takut membuat seseorang untuk menundukkan pandangannya. Semakin baik rasa takut seseorang kepada Allah SWT, semakin ia terbantu untuk meninggalkan kemaksiatan dan melakukan perkara-perkara kebaikan.

✍️ Alkisah seorang Tabi’in bernama Ubaid bin Umair adalah sosok yang memiliki rasa takut tinggi kepada Allah SWT, hingga dapat menebarkan rasa takut ini kepada orang-orang yang bersamanya. Berikut kisah beliau bersama seorang biduan cantik di Mekah.

Satu waktu, saat biduan tersebut sedang berdandan, ia berkata kepada suaminya.
Biduan: menurutmu adakah seseorang yang saat melihat wajah secantik ini, ia tidak tergelincir?
Suami: Ya.
Biduan: siapa orang itu?
Suami: Ubaid bin Umair.
Bisduan: kalau begitu izinkan aku untuk menggodanya!
Suami: silakan.

Maka, biduan tersebut mendatangi Ubaid dengan berpura-pura sebagai orang yang ingin berkonsultasi. Di hadapannya, ia memperlihatkan kecantikannya, indah seperti rembulan purnama.
Ubaid berkata kepadanya: takutlah kepada Allah hai fulanah (perempuan)!
Biduan: aku telah tersanjung denganmu, maka berikanlah aku kesempatan (untuk memenuhi keinginanku)!
Ubaid: aku akan tanyakan beberapa hal, jika engkau menjawabnya dengan jujur, maka terbuka kesempatan untukmu.
Biduan: baik, aku akan menjawabnya dengan jujur.
Ubaid: saat malaikat maut datang mencabut nyawamu, apakah engkau akan merasa senang saat aku memenuhi keinginanmu itu?
Biduan: tentu tidak.
Ubaid: saat engkau berada di kuburmu dan hendak disampaikan banyak pertanyaan kepadamu, apakah engkau akan senang saat aku memenuhi keinginanmu itu?
Biduan: tentu tidak.
Ubaid: saat setiap manusia hendak menerima catatan amal mereka, dan saat itu engkau tidak tahu akan menerima catatan amalmu dengan tangan kanan atau kirimu, apakah engkau akan merasa senang aku memenuhi keinginanmu itu?
Biduan: tentu tidak.
Ubaid: saat engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah engkau merasa senang saat aku memenuhi keinginanmu itu?
Biduan: tentu tidak
Ubaid: bertakwalah kepada Allah hai fulanah! sungguh Allah telah memberikan nikmat dan kebaikan kepadamu.

Maka, biduan tersebut Kembali kepada suaminya.
Suami: ada apa denganmu?
Biduan: kamu pengangguran (kurang kerjaan), kita semua pengangguran (kurang kerjaan)!

🕌 Maka biduan tersebut beranjak melakukan shalat, puasa dan ibadah (taqarrub/mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Suaminya berkata: apa yang telah dilakukan oleh Ubaid bin Umair kepadanya. Biasanya ia adalah pengantin yang bersolek di setiap malam, sekarang dibuatnya ia menjadi ahli ibadah. (Kitab Dzammul Hawaa).

Penulis :
Ahmad Yani, Lc. MA
(Direktur Rumah Tahfizh Qur'an Khairukum)

Blog Post Lainnya
Kontak Kami
0813 1575 9908
info@zakatbaik.org
Perum Vila Rizki Ilhami 2 Jl. Raihan Boulevard Ruko RD 9 Sawangan, Depok, Jawa Barat
Ikuti kami
@2021 Zakat Baik Inc.