
Kondisi ekonomi yang penuh tantangan turut dirasakan oleh banyak keluarga, termasuk Pak Arsan, seorang ayah empat anak asal Palembang yang kini menetap di wilayah Iwul, Parung, Kabupaten Bogor. Sehari-hari, Pak Arsan bekerja sebagai sopir taksi. Perjuangannya dimulai sejak pagi dan berakhir hingga malam hari. Namun, dari pekerjaan yang dijalani dengan penuh peluh tersebut, penghasilan yang dapat dibawa pulang setiap harinya sering kali kurang dari Rp100.000. Penghasilan itu harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
Keterbatasan ekonomi akhirnya membuat salah satu anak Pak Arsan harus menghadapi keadaan yang tidak mudah. Anak keduanya yang sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di wilayah Bogor terpaksa dipulangkan sementara setelah tunggakan biaya pendidikan mencapai delapan bulan. Bukan karena semangat belajarnya berkurang, justru anak tersebut memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar. Hingga kini, ia telah menghafalkan 27 juz Al-Qur’an dan memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 1 dengan bekal hafalan yang dimilikinya.
Bagi keluarga Pak Arsan, keputusan untuk merumahkan sementara sang anak tentu bukan sesuatu yang mudah. Ada harapan besar yang harus tetap dijaga di tengah keterbatasan. Pak Arsan mengaku telah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anaknya, namun hasil yang diperoleh belum mampu menutup seluruh kebutuhan. Di satu sisi, ia ingin anaknya tetap melanjutkan pendidikan dan menjaga hafalan Al-Qur’annya. Di sisi lain, kemampuan ekonomi keluarga membuat langkah tersebut terasa semakin berat.
Melihat kondisi tersebut, Zakat Baik hadir memberikan dukungan pendidikan untuk membantu meringankan beban Pak Arsan. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar agar sang anak memiliki kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan di pesantren dan menjaga cita-citanya. Selain bantuan pendidikan, Zakat Baik juga menyalurkan paket sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dukungan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan sebuah keluarga tidak harus dijalani sendirian ketika masih ada tangan-tangan kebaikan yang bersedia menguatkan.
Dengan penuh haru, Pak Arsan menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya. “Saya haturkan terima kasih kepada Bapak dari tim Zakat Baik yang sudah memberikan support. Saya sudah maksimal berikhtiar, namun hasilnya belum maksimal. Alhamdulillah, ada bantuan beasiswa dan sembako yang bisa saya bawa pulang,” ungkapnya. Semoga ikhtiar kecil yang dipertemukan melalui Zakat Baik dapat membuka kembali jalan pendidikan bagi ananda, hingga suatu hari nanti hafalan 27 juz yang telah dijaga dengan penuh perjuangan menjadi bekal untuk melanjutkan studi, meraih cita-cita, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi keluarga serta orang lain.




