
Berlokasi di area peternakan penggemukan sapi di wilayah Goa Batu, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, tim Zakat Baik melakukan pemantauan langsung terhadap kegiatan panen pupuk organik hasil program pemberdayaan masyarakat. Program ini dijalankan oleh Kelompok Tani Berdaya Agro Inisiatif Kascing yang dipimpin oleh Bapak Ahmad Sahrudin. Kegiatan panen yang berlangsung kali ini menandai bulan kedua sejak proses budidaya cacing dimulai pada media kotoran hewan (kohe), sekaligus menjadi indikator awal keberhasilan program zakat produktif yang dikembangkan.
Sebagaimana diketahui, aktivitas peternakan sapi, khususnya penggemukan, menghasilkan limbah kotoran dalam jumlah besar setiap harinya. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, mulai dari bau tidak sedap, peningkatan emisi gas seperti amonia, hingga pencemaran tanah dan air di sekitar lokasi peternakan. Kondisi ini kerap menjadi keluhan masyarakat sekitar. Namun, melalui inovasi yang dilakukan kelompok tani ini, limbah tersebut justru diolah menjadi produk yang bernilai guna dan bernilai jual.
Proses pengolahan dimulai dari pengumpulan dan penataan kotoran hewan pada media khusus yang telah disiapkan. Selanjutnya, media tersebut diinokulasi dengan dua jenis cacing yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengurai bahan organik, seperti cacing Lumbricus rubellus dan Eisenia fetida. Kedua jenis cacing ini dikenal efektif dalam mempercepat proses dekomposisi. Dalam kurun waktu kurang lebih 40–60 hari, cacing akan mengonsumsi bahan organik dan mengubahnya menjadi vermikompos atau yang lebih dikenal sebagai pupuk kascing.
Pupuk kascing memiliki sejumlah keunggulan yang telah didukung oleh berbagai penelitian di bidang pertanian. Secara umum, kascing mengandung unsur hara makro penting seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur mikro seperti kalsium, magnesium, dan zat besi dalam bentuk yang lebih mudah diserap tanaman. Selain itu, kascing kaya akan mikroorganisme bermanfaat seperti bakteri pelarut fosfat dan pengikat nitrogen yang mampu meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Dari sisi fisik, pupuk kascing juga mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas, serta daya simpan air hingga lebih dari 20–30% dibandingkan tanah tanpa perlakuan organik.
Keunggulan lain dari pupuk kascing adalah sifatnya yang ramah lingkungan dan aman bagi tanaman. Berbeda dengan pupuk kimia yang dalam penggunaan jangka panjang dapat merusak struktur tanah, kascing justru memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan. Selain itu, kascing memiliki pH netral (sekitar 6,5–7,5) sehingga cocok digunakan untuk berbagai jenis tanaman, mulai dari hortikultura, tanaman pangan, hingga tanaman hias. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan kascing dapat meningkatkan hasil panen tanaman hingga 10–25% tergantung pada jenis tanaman dan kondisi lahan.
Hasil produksi pupuk kascing dari kelompok tani ini kemudian dipasarkan ke berbagai segmen, seperti komunitas pertanian, peternak, hingga masyarakat umum yang mulai beralih ke pertanian organik. Aktivitas pemasaran ini tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi bagi anggota kelompok tani, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang berkelanjutan. Lebih dari itu, sebagian hasil penjualan turut dialokasikan sebagai dukungan operasional bagi pondok pesantren, sehingga menciptakan ekosistem kebaikan yang saling menguatkan.
Program zakat produktif yang diinisiasi melalui kegiatan ini terbukti memberikan dampak multidimensi. Tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren. Dengan potensi limbah yang terus tersedia setiap hari, peluang pengembangan program ini masih sangat luas. Semakin banyak kotoran hewan yang dikelola, semakin besar pula manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dapat dirasakan oleh berbagai pihak.
Ke depan, ujar Hendra Aditya yang turut hadir di lokasi, program seperti ini insya Allah memiliki dampak yang sangat baik bagi lingkungan, kelompok tani, maupun pondok pesantren. Oleh karena itu, program ini akan terus diupayakan untuk direplikasi di beberapa titik lainnya, sehingga semakin banyak pihak yang dapat merasakan manfaat dari program zakat produktif ini.









