
Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, mencari nafkah bagi sebagian keluarga bukanlah perkara sederhana. Setiap hari menjadi perjuangan untuk memastikan dapur tetap mengepul, kebutuhan anak terpenuhi, dan keluarga tetap bisa menjalani kehidupan dengan layak. Mereka adalah para pejuang keluarga yang sejak pagi telah keluar rumah, mengayuh motor, mendorong gerobak, membuka warung kecil, berjualan di pinggir jalan, hingga kembali pulang ketika hari mulai gelap.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2025 persentase penduduk miskin di Indonesia berada di angka 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta orang. Di Jawa Barat, angkanya mencapai 7,02 persen atau sekitar 3,65 juta orang. Sementara itu, Kabupaten Bogor mencatat angka kemiskinan sebesar 6,26 persen, Kota Bogor 5,89 persen, dan Kota Depok 2,31 persen. Angka-angka tersebut memang menggambarkan kondisi secara statistik, tetapi di balik setiap angka terdapat keluarga, orang tua, dan para pekerja yang setiap hari berjuang mempertahankan kehidupannya.
Di jalanan, wajah perjuangan itu begitu mudah ditemui. Ada pedagang makanan yang sejak subuh menyiapkan dagangan, pengemudi yang berjam-jam berada di atas kendaraan, pedagang keliling yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga pelaku UMKM kecil yang terus mencoba bertahan meski keuntungan yang diperoleh belum seberapa. Mereka bukan sekadar mencari penghasilan untuk dirinya sendiri. Di belakang mereka ada keluarga yang menunggu: ada anak yang membutuhkan biaya sekolah, ada kebutuhan makan sehari-hari, ada cicilan dan kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.
Bagi para pelaku UMKM kecil, bertahan bukan hanya soal bagaimana mendapatkan pelanggan. Mereka juga harus memikirkan modal yang terbatas, harga bahan baku yang berubah, biaya transportasi, kebutuhan rumah tangga, hingga risiko dagangan yang tidak habis terjual. Karena itu, dukungan sekecil apa pun dapat menjadi sangat berarti. Bukan untuk membuat mereka berhenti berjuang, tetapi justru agar mereka memiliki tenaga dan ruang yang lebih besar untuk terus mengembangkan usaha dan menjaga keluarganya.
Melalui berbagai program kebaikan, Zakat Baik berupaya mengambil bagian dalam perjuangan tersebut. Salah satunya melalui program Berbagi Beras dan Sembako, yang diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk para pejuang keluarga yang tetap bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi penerimanya dapat menjadi pengurang beban belanja rumah tangga sekaligus menjadi penyemangat bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendirian.
Karena masih banyak keluarga yang memilih untuk terus berjuang daripada menyerah. Masih banyak pedagang kecil yang setiap pagi membuka lapaknya, masih banyak pekerja yang berpanas-panasan di jalan, dan masih banyak pelaku UMKM yang mencoba bertahan dengan segala keterbatasan. Mari terus dukung mereka yang sedang berjuang. Melalui zakat, infak, sedekah, serta dukungan terhadap program-program kebaikan Zakat Baik, kita hadir bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi ikut menguatkan langkah para pejuang keluarga agar mereka dapat terus bekerja, berusaha, dan menjaga keluarganya dengan penuh martabat.





